/**/

Senin, 03 Mei 2010

Kisah Michael Hatcher Sang Penjarah Puluhan Juta Dolar Harta Karun dari Perairan Indonesia

. Senin, 03 Mei 2010


Michael Hatcher, Raja Harta Karun dari Panti Asuhan.. Harta karun? Mengucapkannya saja, otak langsung tertuju pada film National Treasure yang dibintangi Nicolas Cage. Membayangkan kalau harta karun itu identik dengan emas lantakan, patung bertahta berlian dan barang gemerlap lainnya. Wow!

Imaji itu tak terlalu salah. Setidaknya dibuktikan Michael Hatcher, pria asli Inggris yang kini menjadi warga Australia, yang dikenal sebagai raja pemburu harta karun kelas kakap.

Emas lantakan ditemukannya saat dia mengeruk harta terpendam kapal dagang milik VOC, De Geldermalsen, yang karam pada 1750. Pada tahun 1986, dia berhasil mengangkat 126 batang emas lantakan -- versi lain menyebut 225 batang!

Belum lagi 160 ribu benda keramik antik peninggalan dinasti Ming dan Ching. Harta karun itu dilegonya di Balai Lelang Christie di Amsterdam dan laku 15 juta dolar atau kala itu setara Rp 16,6 miliar.

Penemuan itu membuat nama Hatcher beken. Sebab, pemerintah Indonesia dan Belanda terlibat adu klaim. Indonesia merasa berhak mendapat separo dari harta karun itu karena posisi kapal karam berada di perairannya yaitu Bintan Timur, Provinsi Riau.

Namun Belanda yang ada di belakang Hatcher, mengaku lebih berhak mewarisi kapal de Geldermalsen dan bersikeras lokasi karam kapal itu berada di zona internasional. Karena Indonesia kurang bukti untuk mempertahankan argumennya, akhirnya Indonesia tidak mendapat satu sen pun.

Kala itu, kasus ini menjadi perbincangan ramai di Tanah Air. Bahkan Presiden Soeharto turun tangan. Hacther dianggap menjarah kekayaan laut bangsa Indonesia. Gara-gara kecolongan inilah, pemerintah membentuk Panitia Nasional Barang Berharga Muatan Kapal Tenggelam (BMKT).

Panitia Nasional bertugas memberikan rekomendasi mengenai izin pengangkatan dan pemanfaatan benda-benda berharga kepada pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Michael Hacther 'perampok' harta karun. Warga negara Australia yang sangat fenomenal, dengan aktivitasnya melakukan perampokan besar di berbagai perairan wilayah Republik Indonesia," tuding Konsorsium Penyelamat Aset Bangsa, gabungan individu yang peduli terhadap penyelamatan kekayaan, aset dan sumber daya alam bangsa.

Meski telah melukai hati pemerintah Indonesia, namun uniknya, dia tetap bisa merambah kekayaan di bawah laut. Pada tahun 1999 dia mengangkat kapal Tek Sing di perairan Kepulauan Bangka, Sumsel, dengan nilai ekonomis Rp 500 miliar.

Dia juga diketahui terlihat di Blanakan, Kabupaten Cirebon, pada 17 April 2010. Dia diduga sedang mengincar keramik peninggalan dinasti Ming, yang jika sukses, akan menjadi rekor sepanjang karirnya. Karena harga ekonomis harta karun itu ditaksir mencapai 200 juta dolar.

Michael 'Mike' Hatcher lahir di York, Inggris, tahun 1940. Hidup masa kecilnya kurang beruntung, dia menetap di sebuah panti asuhan. Pada umur 14 tahun, dia hijrah ke Australia. Perburuan muatan kapal karam dimulai tahun 1970 dengan sebuah yacht tua yang direnovasi.

Pada 1981 berhasil mengangkat isi kapal tenggelam di Malaysia, tahun 1985 di Tanjung Pinang Indonesia, dan tahun 1998 di Indonesia. Di dunia internasional dia dijuluki 'The Wreck Salvage King' (Raja Penyelamat Kapal Karam).

Penulis biografinya, Hugh Edwards, menggambarkan Hatcher memiliki kehidupan yang memikat 'dengan menjelajahi tujuh lautan untuk harta karun terpendam'.

"Dari awal yang sederhana Hatcher telah menjadi penyelamat laut yang paling terkenal di zaman modern. Dia telah mengangkat barang berharga yang tak terhitung jumlahnya dari lokasi eksotis seperti Indonesia dan Thailand, dan dalam banyak hal telah menjalani hidup yang mempesona. Kisahnya adalah salah satu keberanian dan tekat dalam menghadapi kesulitan, dan berani, keterampilan dan penghargaan fantastis," tulis Edwards dalam bukunya "Treasures of The Deep" seperti dilansir The Australian.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad pun angkat bicara. Hatcher disebutnya sudah merugikan Indonesia sampai jutaan dolar. Karena itu, pihaknya menggandeng beberapa institusi yang terkait seperti Polri dan TNI AL untuk mencari Hatcher, yang tak pernah ditangkal masuk Indonesia.

"Kita kan sudah ada keputusan barang yang didapat harus dilelang dulu terus dijual. Hasilnya dibagi dua. Jadi kita akan cari dia," tegasnya.

Akankah Michael Hacther berhasil diciduk?

Mudah Kongkalikong, Indonesia Jadi Tempat Favorit Hatcher

Michael Hatcher sang pemburu harta karun asal Australia masih menjalankan aksinya di perairan Blanakan, Subang, Jawa Barat. Hatcher beroperasi di seluruh dunia. Namun, Indonesia menjadi tempat favoritnya.

"Di sini mudah berkongkalikong. Tidak mungkin Hatcher bisa bergerak leluasa tanpa dukungan pejabat terkait," ujar koordinator masyarakat advokasi warisan budaya Indonesia, Jhohannes Marbun, kepada detikcom, Rabu (28/4/2010) malam.

Jo, panggilannya akrabnya, menjelaskan saat berburu harta karun, Hatcher menggunakan 2 jenis kapal. "Kapal pertama ini kapal canggih, dilengkapi sonar dan alat untuk penyelam lengkap," tambahnya.

Dengan alat sonar ini, seluruh muka dasar laut Indonesia bisa terdeteksi. Hatcher pun bisa menemukan targetnya dengan mudah.

Kapal kedua yang digunakan Hatcher, adalah kapal tongkang atau kapal barang. Kapal ini digunakan untuk memuat hasil harta karun jarahan Hatcher yang beratnya berton-ton.

Kapal-kapal milik rekan Hatcher, Kiyoshi Makatsuka, bisa masuk ke Indonesia karena diduga kapal tersebut bukan terdaftar atas nama Hatcher atau Makatsuka. Namun didaftarkan atas nama Suwanda. Orang inilah tangan kanan Hatcher.

"Suwanda lalu berganti nama menjadi Suharta. kapal-kapal milik Hatcher pun bisa masuk ke Indonesia," terang dia.

Hatcher lahir di York, Inggris tahun 1940. Pada usia 14 tahun, ia pindah ke Australia. Perburuan harta karun pertamanya dimulai tahun 1970 dengan kapal tua yang direnovasi. Hatcher beraksi tahun 1981 di Malaysia.

Di Indonesia, Hatcher berhasil mengangkat Kapal Vec De Geldermalsen di perairan Bintan Timur tahun 1986. Selain itu ia mengangkat kapal Tek Sing di Perairan Bangka pada tahun 1999. Hasil yang didapat Hatcher dari kedua kapal karam itu triliunan rupiah.


Ada 493 Situs Harta Karun di Indonesia

Pantas saja si pemburu harta karun Michael Hatcher senang melakukan perburuan di Indonesia. Dari data Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP) Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), ada 493 situs arkeologi bawah laut di Indonesia.

"Ada 493, menurut maping yang ada," ujar Dirjen PSDKP KKP Aji Sularso dalam jumpa pers di kantornya, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (29/4/2010).

Dari 493 ini, kurang dari 10 persennya yang sudah dieksplorasi. Maklum, dana untuk survei dan mengangkat muatan kapal ini tidak sedikit. Apalagi jika terjebak dalam lumpur di dasar laut.

"Bisa jutaan dolar," terang Aji.

Namun Aji menjelaskan tidak semua kapal tersebut masih berisi harta karun. Kadang kapalnya masih ada, tapi muatannya sudah tidak ada.

"Penjarahan itu banyak terjadi di Selat Glasa, di sekitar perairan Bangka Belitung," ungkapnya.

Michael 'Mike' Hatcher lahir di York, Inggris, tahun 1940. Hidup masa kecilnya kurang beruntung. Dia menetap di sebuah panti asuhan. Pada umur 14 tahun, dia hijrah ke Australia. Perburuan muatan kapal karam dimulai tahun 1970 dengan sebuah yacht tua yang direnovasi.

Pada 1981 berhasil mengangkat isi kapal tenggelam di Malaysia, tahun 1985 di Tanjung Pinang Indonesia, dan tahun 1998 di Indonesia. Di dunia internasional dia dijuluki 'The Wreck Salvage King' (Raja Penyelamat Kapal Karam).

Saat berhasil mengangkat kapal Geldermasen milik VOC di Karang Heliputan, Tanjung Pinang, tahun 1985-1986, Hatcher mendapatkan 126 emas batangan dan 160 ribu benda keramik dinasti Ming dan Ching. Nilainya tidak kurang dari US$ 15 juta saat itu.

Lalu Hetcher mengangkat kapal Tek Sing di Perairan Kepulauan Bangka, Sumatera Selatan tahun 1999 lalu. Nilainya Rp 500 miliar. Kini Hatcher diduga muncul kembali di perairan Blanakan, Subang. Jika Hatcher berhasil mengangkat harta karun dari Subang, maka ini akan menjadi rekor selama karirnya. Diperkirakan porselen dinasti Ming yang tenggelam di sana tidak kurang dari US$ 200 juta.





Related Post



0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 

Pengikut

Blog arsipberita.blogspot.com ini bekerjasama dengan kir31 | Didukung oleh Dimensi berita