Mochammad Zuliansyah, dosen ITB mengaku secara terbuka bahwa dirinya melakukan plagiat atau penjiplakan karya ilmiah milik peneliti lain yang terbit pada jurnal bulanan prestisius bidang perancangan komputer, IEEE.
Dalam penulisan karya ilmiah itu, Zuliansyah dibimbing tiga dosesnnya, yakni Carmadi Machbub, Suhono Harso Supangkat, dan Yoga Priyana.
Dalam salinan surat terbuka yang dia tujukan kepada seluruh pemangku kepentingan ITB, dia menyampaikan permohonan maaf dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari statusnya sebagai dosen ITB.
"Saya sangat merasa bersalah, dan saya pribadi akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian ini. Saya telah mengundurkan diri dari status cpns dosen ITB tahun 2008-2009 dan saya telah meninggalkan status dosen," kata Zuliyansyah dalam surat elektronik yang ditujukan kepada Ikatan Alumni ITB, Kamis (15/4).
Menurut dia, tindakan penjiplakan tersebut terjadi karena dirinya salah dalam meracik kata-kata dalam karya ilmiah. Akibatnya, isi karya ilmiah tersebut, sama persis dengan isi karya ilmiah rujukan. "Kejadian tersebut sepenuhnya terjadi akibat keteledoran saya dalam mixing content antara penelitian saya dan referensi, sehingga terjadi pengiriman paper yang sama persis dengan referensi saya."
Zuliansyah mengatakan, bahwa ketiga dosen pembimbingnya tersebut tidak ikut ambil bagian dalam aksi plagiarisme itu. Menurut dia, karya ilmiah tersebut dikirimkan ke jurnal prestisius tanpa sepengetahuan tiga dosen pembimbing tersebut.
"Sepenuhnya hal ini adalah kesalahan dan keteledoran saya pribadi tanpa campur tangan dan sepengetahuan para pembimbing yang sangat saya hormati yaitu Bpk Carmadi Machbub, Bpk Suhono Harso Supangkat dan Bpk Yoga Priyana, serta tanpa keterlibatan STEI maupun ITB."
Pernyataan ini mendapat tanggapan beragam dari pemangku kepentingan ITB. Ada pihak yang beranggapan jika pengakuan Zuliansyah tidak berarti tiga dosen pembimbingnya bebas dari kesalahan. Namun hingga berita ini diturunkan, Rektor ITB Akhmaloka belum bisa dihubungi, begitu juga Dekan Sekolah Teknik Elektronika dan Informatika Adang Suwandi .
Jumat, 16 April 2010
Dosen ITB Mengaku Menjiplak Karya Milik Orang Lain
Label: pendidikanKamis, 15 April 2010
Ujian Nasional dan SNMPTN akan Digabung Tahun 2011
Label: indonesia, info, pendidikan
Integrasi Ujian Akhir Nasional dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri diperkirakan akan dilakukan pada tahun 2011. Hal itu bisa terlaksana bila hasil UAN 2010 kredibel. “Kalau hasil UAN sudah kredibel, tentu tidak ada alasan untuk menunggu hingga tahun 2012 seperti penggabungan UAN- SNMPTN yang direncanakan mantan Mendiknas Bambang Sudibyo pada 2008 lalu,” kata Ketua SNMPTN Haris Supratno dalam keterangan pers di Kantor Depdiknas Jakarta, Jumat (6/11).
Dia juga menjelaskan, tahapan mengenai penggabungan itu sudah dilakukan. Terlebih tujuannya adalah mensinergikan pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. “Jumat pekan lalu kami sudah mengadakan rapat dengan seluruh panitia SNMPTN di Kuta Bali. Namun demikian, para rektor itu belum mengambil sikap karena masih menunggu keputusan resmi Mendiknas,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, wacana penggabungan UAN-SNMPTN sebenarnya bukan hal baru. Sebab pada tahun 2008, para rektor sudah sepakat untuk mengintegrasikan hasil UAN dengan SNMPTN pada tahun 2012.
“Dengan catatan, hasil UAN kredibel. Untuk mencapai 2012, maka pada 2009 para rektor sudah dilibatkan dalam penanganan UAN. Yaitu menangani pengawasan/proses pembuatan naskah hingga distribusi ke satuan pendidikan,” ungkapnya.
Selain itu, para rektor juga sudah dilibatkan dalam pemindaian serta pengawasan di setiap satuan pendidikan. Setelah perguruan tinggi terlibat, telah ditemukan hasil yang signnifikan.
Meski diakui ada beberapa SMA yang belum kredibel, dimana niat untuk meluluskan siswa dilakukan dengan cara-cara yang tidak baik. Sehingga, hasil UN tahun ini belum bisa jadi syarat masuk perguruan tinggi. “Tetapi kita sepakat akan ikut berperan dalam pelaksanaan UN. Dari proses penyusunan, pelaksanaan maupun evaluasi. Dengan melibatkan perguruan tinggi, hal itu merupakan hasil kerja bersama, dimana tidak ada alasan untuk menolaknya,” ucap Haris yang juga rektor Universitas Negeri Surabaya itu.
Selain itu, sejumlah tahapan sudah dilakukan, sehingga tidak langsung menghilangkan SNMPTN. Untuk itu, pihaknya juga mengaku sudah berbenah diri. Termasuk tidak menutup mata atas terjadinya kecurangan yang pernah terjadi.
Di tempat yang sama, Mendiknas M Nuh membantah akan meniadakan SNMPTN. Sebab, yang dilakukan oleh Depdiknas adalah mengintegrasikan jenjang pendidikan terendah hingga tertinggi.
“Jika capaian di SD bisa diakui oleh SMP, dan prestasi di SMP diakui oleh SMA, mengapa pendidikan di SMA tidak diakui oleh ‘kakaknya’ yang paling tua yaitu perguruan tinggi? Salah satu alasan yang sering kita dengar adalah nilai yang dihasilkan oleh ‘adiknya’ tidak dipercaya oleh perguruan tinggi,” paparnya.
Itulah sebabnya, perguruan tinggi akhirnya mengadakan seleksi/ujian sendiri. Mendiknas mengaku menghargai mengapa perguruan tinggi memiliki alasan seperti itu. Untuk itu, Depdiknas memikirkan cara agar pengukuran prestasi bisa kredibel.
“Jika hasil UN kredibel, maka tidak ada alasan bagi perguruan tinggi untuk menolak integrasi. Depdiknas sudah bertemu dengan sejumlah rektor dan mereka mengaku welcome dengan rencana penggabungan itu,” tandasnya.
Dikatakan, saat ini tahapan-tahapan integrasi itu sudah dilakukan. Sehingga, hal itu bisa menjadi kesatuan sistem.