Warga di kawasan Tanjung Api-api, Banyuasin, Sumatera Selatan, dihebohkan dengan penemuan cacing nipah sepanjang 2,5 meter. Uniknya lagi, cacing itu punya dua taring besar di kepala.
Karena bentuknya yang unik, warga sekitar menyebut hewan melata itu sebagai cacing naga. Badan cacing naga seukuran jari warna merah ini, sedikit mirip lipan yang punya banyak kaki di sepanjang bagian bawah tubuh. Namun, terlihat dan terasa lebih lunak khas hewan mollusca.
Cacing ini ditemukan oleh Timan. War (26), putra Timan, mengatakan, cacing tersebut ditangkap dengan menggunakan besi yang dibentuk seperti garpu. "Saya tidak ikut karena takut," kata War.
Timan yang sehari-hari bekerja sebagai pencari cacing tak menyangka mendapat cacing naga sepanjang 2,5 meter.
Rosinta, mahasiswi pascasarjana Universitas Sriwijaya, Palembang yang sedang melakukan survei untuk thesis kajian lingkungan di pelabuhan fery/kargo Tanjung Api-api kaget melihat cacing ini. "Saya baru lihat ada cacing panjang seperti itu," kata Rosinta.
Sabtu, 29 Januari 2011
Heboh Cacing Naga Sepanjang 2,5 Meter
Label: aneh, binatang, hewan, unikJumat, 12 November 2010
Hewan Yang Mempunyai Testis Terbesar Di Dunia
Label: berita, binatang, unik
Bila ditanya, binatang apa yang punya testikel terbesar? Mungkin banyak yang akan menjawab, "kuda!"
Sayangnya, jawaban itu salah. Sebab binatang pemegang rekor ukuran testikel terbesar dibandingkan dengan ukuran tubuhnya adalah: Jangkrik bushcricket (Platycleis affinis).
Seperti dikutip dari LiveScience, di Australia dan Amerika, jangkrik jenis ini dikenal juga sebagai tonggeret. Menurut pakar ekologi tingkah laku dari University of Derby Inggris Karim Vahed, jangkrik ini di Eropa bagian Selatan bisa dijumpai di daerah berumput.
Menurut para peneliti, jangkrik jenis ini memiliki ukuran testikel yang besarnya sekitar 14 persen dari seluruh ukuran tubuhnya.Sebagai gambaran, dengan proporsi tubuh seperti itu, bila si jangkrik memiliki tubuh sebesar manusia dewasa, maka testikelnya diperkirakan bakal seberat 12,7 kg, atau lebih berat dari bobot anak setahun.
Si jangkrik sekaligus menumbangkan rekor testikel terbesar, yang dimiliki oleh lalat buah Drosophilla Bifurca, dengan ukuran testikel sebesar 10,6 persen dari seluruh tubuhnya.
Namun, dengan besarnya testikel yang dimiliki, tidak berarti jangkrik ini dapat memproduksi lebih banyak sperma saat ejakulasi, ketimbang spesies lain yang punya testikel lebih kecil.
Hanya saja, stamina yang dimiliki jangkrik bushcricket ini memang lebih 'ngejoss'. "Besarnya testis membuat jangkrik jantan bisa lebih siap melayani hasrat dari jangkrik betina," kata Vahed.
Seeokor Kelelawar Aneh dan Langka Ditemukan Di Sumatera
Seekor kelelawar langka ditemukan di sebuah kawasan kecil di hutan hujan pulau Sumatera. Para pemerhati lingkungan menyebutkan, penemuan ini menunjukkan bahwa bahkan secuil sisa hutan sekalipun, tetap perlu dilindungi.
Konservasionis dari Inggris menemukan kelelawar Ridley dengan hidung bagai daun itu ditemukan di hutan yang hanya seluas 300 hektar, saat mereka melakukan survey keanekaragaman hayati di Sumatera Barat, Indonesia.
Kelelawar Ridley berhidung daun (Hipposideros ridleyi) ditemukan bertengger di rongga pohon (di dalam cekungan dan rongga pohon, di bawah pohon-pohon tumbang, dan bongkahan kayu). Oleh International Union for Conservation of Nature, kelelawar tersebut tergolong ke dalam daftar spesies yang terancam dan perlu dilindungi.
Saat ini, hutan kecil di Sumatera itu dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Seperti diketahui, perkebunan seringkali dibuat di kawasan hutan yang dibabat dan kemudian semakin meluas ke kawasan tempat berhuninya spesies langka.
Selain kelelawar, pada survey yang dilakukan, ditemukan pula beruang matahari, tapir, siamang tangkas, dan lutung. Semuanya juga termasuk dalam daftar satwa yang terancam punah.
“Penemuan ini menunjukkan bahwa kawasan hutan tertentu merupakan tempat yang paling cocok bagi sejumlah spesies satwa yang perlu dilindungi,” kata Matthew Struebig, ketua peneliti dari University of London, seperti dikutip dari Livescience, 12 November 2010.
Untuk itu, komunitas ilmiah, kata Struebig, perlu mendukung komunitas bisnis dalam mencari cara bagaimana mencegah kehidupan satwa langka untuk jangka panjang.
“Petani kelapa sawit perlu mengidentifikasi kawasan tertentu yang membutuhkan perhatian khusus, meskipun kawasan yang dimaksud berada di tanah ataupun lahan pertanian mereka,” kata Struebig. “Mereka perlu menjaga dan merawat habitat satwa tersebut,” ucapnya.
Kawasan yang disurvey di Sumatera itu saat ini dikelola sebagai kawasan konservasi oleh sebuah perusahaan pemilik perkebunan kelapa sawit. Pengelolaan bertujuan untuk membatasi penebangan dan perambahan hutan. Akan tetapi, efektivitas konservasi dari kawasan hutan tersebut diragukan.
“Melindungi kawasan hutan akan selalu menjadi prioritas bagi pemerhati lingkungan, akan tetapi jika ambisi para pemilik lahan pertanian untuk memperluas kebun kelapa sawit terealisasi, maka menjaga kawasan hutan di dalam perkebunan kelapa sawit juga menjadi hal yang penting untuk menjaga keanekaragaman hayati di Indonesia,” kata Sophie Persey, dari Zoological Society of London yang juga Oil Palm Project Manager, pada kesempatan yang sama.
Rabu, 05 Mei 2010
Tokek 64 Kilogram Ditawar Rp 6,5 Miliar
Label: aneh, binatang, hewan, hotnews, unik
KAWASAN hutan yang berada di perbatasan antara Siemanggaris, Nunukan dan Serudong, Malaysia ternyata masih menyimpan berbagai potensi flora dan fauna yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.
Baru-baru ini di perbatasan kawasan tersebut, ditemukan seekor tokek yang diklaim memiliki berat hingga 64 kilogram. Tokek tersebut ditemukan salah seorang remaja, warga negara Malaysia yang tinggal di Kalabakan, tak jauh dari perbatasan Indonesia.
Arbin, warga Tawau, Malaysia, yang sempat mengabadikan gambar tokek itu menceritakan, awalnya si remaja pemilik tokek itu berjalan-jalan di kawasan hutan. Ia memang memiliki niat untuk mencari tokek.
“Karena di Malaysia ini sedang gempar-gemparnya orang mencari tokek. Nah si remaja ini juga ikut mencari tokek ke hutan,” kata Arbin, yang ditemui di Tawau, Senin (3/5/2010) malam lalu.
Saat sedang berburu tokek itulah, secara tidak sengaja si remaja ini menemukan tokek berukuran raksasa. “Awalnya dia kaget juga karena besarnya seperti buaya. Setelah dilihat ternyata tokek dan dia sudah tidak bisa bergerak karena besar sekali. Tokek itu dipikul lalu dibawa pulang,” ujarnya.
Tokek itu kini masih tersimpan di rumah si penemunya, di Kalabakan. Setiap harinya, hewan tersebut harus diberi makan daging terutama hati ayam untuk dapat terus bertahan hidup. Sebenarnya sudah banyak calon pembeli yang datang melihat langsung temuan tersebut. Namun hingga kini belum ada kesepakatan harga antara si penjual dan pembeli.
“Itu sudah pernah ditawar 2.300 juta ringgit Malaysia (setara Rp 6,4 miliar) tapi dia tidak mau lepas. Katanya mau cari orang yang boleh beli lebih tinggi lagi,” katanya.
Di Malaysia khususnya di Tawau, para remaja banyak yang menyisihkan waktunya untuk mencari tokek. Kawasan Bumi Perkemahan Pandu di Kem Tiku termasuk salah satu tempat yang menjadi tempat buruan mereka.
“Pernah waktu ada perkemahan, anak-anak di sana menangkap sembilan ekor tokek. Tapi masih kecil-kecil semuanya,” kata Arbin. Tokek memang memiliki sejumlah manfaat. Misalnya saja dari kulitnya bisa dibuat berbagai perlengkapan pria dan wanita seperti tas, dompet dan sebagainya. Sementara ada juga manfaat tokek yang mampu mengobati penyakit asma.
Konon kabarnya di Cina dan Thailand sedang dikembangkan suatu obat HIV/AIDS yang terbuat dari hewan tokek ini. Bagian dari tokek yang dapat dmanfaatkan untuk obat adalah bagian lidahnya.
Secara tradisional, daging tokek bermanfaat untuk mengobati penyakit asma dan penyakit kulit bahkan di beberapa daerah ada yang mempercayai bahwa mengonsumsi daging tokek dapat bermanfaat sebagai obat penambah gairah seksual bagi kaum pria.
Minggu, 18 April 2010
Kerbau Seharga Mobil Baru
Label: aneh, binatang, unik
Harga kerbau belang (tedong bonga) di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, cukup mahal, bisa mencapai Rp 150 juta per ekor. "Tedong bonga di Mamasa sangat mahal, harganya bisa tembus hingga Rp 150 juta per ekor," kata Bupati Mamasa Obed Nego Depparinding di Mamuju, Kamis.
Menurut Obed, kerbau belang yang berumur dua hingga tiga tahun harganya sangat tinggi. "Kerbau jenis ini untuk disembelih saat acara ritual pemakaman (kematian) bagi bangsawan di Mamasa. Biaya yang dibutuhkan pada acara ritual kematian bagi bangsawan sangat mahal sehingga mereka sejak dini melakukan pengembangan ternak kerbau belang untuk persiapan acara pesta ritual kematian bagi kalangan keluarga mereka," ujar Obed Nego.
Jika tak memiliki kerbau belang, keluarga itu harus segera mencari kerbau sejenis untuk disembelih dalam acara ritual itu. Menurut keyakinan masyarakat setempat, jika tidak menyembelih kerbau belang, arwah yang meninggal akan tetap ”gentayangan”. Adat itu sudah berlangsung turun-temurun dan menjadi suatu kewajiban bagi bangsawan untuk menyembelih kerbau belang.
Ia mengatakan, acara ritual itu mirip dengan pelaksanaan upacara pemakaman jenazah Rambu Solo’ di Kabupaten Tanah Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang juga memiliki garis keturunan yang sama.
Dia menjelaskan, hingga saat ini kerbau belang di Mamasa belum mengalami kepunahan karena rata-rata masyarakat setempat tetap melestarikan hewan langka tersebut yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat bangsawan di Mamasa.
"Peterenak di Mamasa masih mengembangkan kerbau belang meskipun pangsa pasarnya hanya terdapat di Mamasa dan Toraja," katanya.